Yohanes Bandung Bondowoso

Bangkit

Hola!
Lama tak jumpa!
Apa kabar kalian?
Baik baik saja kan?

Lebih dari satu bulan lewat sudah sejak gua dan teman-teman kantor berpisah. Gua yang baru terbiasa dengan budaya ngantor pulang pergi mengikuti arus.

Sebenernya gua ketik kata ‘Hola!’ di atas tanpa tahu topik apa yang akan dibahas di post ini, tapi setelah paragraf kedua, gua dapet ide. Kenapa kita–entah hanya orang Indonesia atau non Indonesia juga demikian– terbiasa mengatakan kebalikan daripada praktiknya?
Gak paham maksud gua? Coba lihat ini, pulang-pergi. Nangkep maksudnya?

Kita mengatakan pulang pergi, selagi nyatanya kita melakukan pergi, diikuti kegiatan pulang. Tidak akan ada kegiatan pulang tanpa adanya kepergian. Juga, gua pikir, kata pulang tidak akan tercipta tanpa ada orang yang berani mengangkat pantat malasnya meninggalkan zona nyaman bernama sofa, di sebelah perapian rumahnya menuju semesta tak terjelajah di luar gerbang desa.

Hal tersebut(pengucapan terbalik) juga benar adanya dengan kurang-lebih, dan datang-tak-dijemput-pulang-tak-diantar. Tanda kurang lebih adalah tanda plus di atas tanda minus, tapi orang mengucapkannya tidak sesuai hirarki, mereka ucapkan dari bawah ke atas. Hal ini bisa jadi tanda pemberontakan kaum bawah terhadap atasannya. Contoh terakhir malah lebih aneh, karena orang yang datang berkunjung, adalah diantar dari rumahnya, dan pulang menunggu jemputan. Jika gua telaah, hal ini mungkin berhubungan dengan kebiasaan manusia yang mengatakan tidak sesuai kenyataan, pembohong. Mungkin hal ini sepele, tapi seperti kata ibu, kebiasaan buruk di rumah akan terbawa ke luar, maka sikap jelek kita akan terbawa dalam ucapan.

Dewasa ini, banyak orang yang mulai mengoreksi ucapan mereka dan mengatakan lebih-kurang atau pergi-pulang. Gua pikir ini adalah tanda kesadaran orang akan kesalahan dan sikap buruk mereka selama ini. Tapi, apakah tindakan mengoreksi ucapan ini adalah hal positif, yaitu orang sadar akan kesalahannya dan diperbaiki, atau negatif, orang yang sadar menutupi kesalahan mereka selagi tetap berhati korup? Apakah ini tanda bahwa orang semakin canggih dalam memutarbalikkan fakta dan menutup-tutupinya, bermain aman selagi uang kotor tetap mengalir ke rekening? Gua berharap yang terbaik.

Hal yang tetap aneh, adalah tidak ada yang mengoreksi menjadi datang-tak-diantar-pulang-tak-dijemput. Frase tersebut berhubungan dengan hal mistis, yakni permainan Jelangkung. Gua pikir, hal tersebut adalah tanda bahwa orang tidak bisa lepas dari takhayul, dan bermain aman dengan tidak mengusik hal mistis yang sudah menjadi kebiasaan. Bahkan para pemberontak dan para pembohong takut mengusik mantra jelangkung. Bahkan penjahat takut hantu.

Penutup, gua himbau kalian tetap hidup baik, dan apa adanya.
Karena bersikap jahat merugikan kita.
Semoga kalian paham.
Salam.

Published on 🔗, tagged: #indonesian#blog

If you have any feedback, please contact me at hi@ybbond.id