Yohanes Bandung Bondowoso


Ujang

- #indonesian#poem

Aku tidak bisa masuk ke rumahku.

Beberapa saat yang lalu, setelah lelah kabur dari rumah karena masalah biasanya, aku memutuskan untuk pulang. Aku kabur ketika matahari mulai terbenam dan mungkin ini sudah lebih dari pukul sembilan.

Melewati gerbang depan ke pekarangan, membuka pintu rumah dan berjalan masuk, menyadari aku kembali berada di pekarangan, menatap pintu tertutup.

Aku diam sebentar, melihat ke pekarangan di belakangku. Mungkin hanya khayalan atau deja vu, jadi aku coba lagi. Menekan kenop dan membuka pintu, berjalan masuk, dan berdiri di depan pintu tertutup. Bunyi jangkrik di rerumputan kiriku.

Aku menggedor pintu, sekeras mungkin. Paling tidak Bapakku akan dengar, dan jika ia masih peduli, akan membukakan pintu. Mungkin Kakakku yang akan mendengar, dan jika ia mau membelaku, akan membukakan pintu. Aku bisa menjelaskan soal keributan ini nantinya, biarlah jika mereka tambah benci aku.

Sudah kucoba pukul, tendang, atau dengan ketukan We Will Rock You. Lalu berhenti. Bunyi jangkrik di sebelah kiri.

Nihil harapan dari dalam rumah, balik badan berlari melewati gerbang depan. Gelap dan bunyi langkah di konblok, lalu sigap berhenti karena nyaris menabrak gerbang depan yang tertutup. Rerumputan di kanan gemersik dan bunyi jangkrik.

“Kenapa bingung, kenapa takut, kenapa berang? Sini gabung aku biar tenang”, kata Ujang, dari rerumputan.

Maka aku lompat ke rumput dan melata ke arahnya, mendongak ke arah bulan, melepas rumah, pekarangan, gerbang, dan berbunyi tenang.


Tragedi di Senin Pagi

- #indonesian#poem

Mimpi apa aku semalam?
Menjadi saksi tragedi nan kelam
Stasiun Manggarai, pada Senin pagi


Seakan semesta mengingatkanku
akan nasehat yang sering dilontarkan
     ibuku
-Kasih rapi sepatu dan tasmu!
-Jangan boleh hewan kecil masuk!


Dari jendela kereta lihat ku
Seorang ibu berdiri tenang
     di peron stasiun
Merogoh tas di depan dadanya
Tiba-tiba
Terlunjak kaget
Itu kelabang merembet
     dari dalam tas


Ia panik terjun ke rel
Kereta tujuan Bogor datang menghujam
Mimpi apa aku semalam?


—entah dapet ide darimana, ditulis di atas Commuter Line tujuan Cikini—


Kamar Gelap

- #indonesian#poem#picture

title=
 

Bersender dinding, lampu mati,
Kamar gelap berkata begini:

Kamu protes soal pengunduran jam konser,
Saat kalian hadir rapat terlambat.

Kamu melabrak junior yang tak hormat,
Ingat ulang caramu bicara pada orangtua.

Kamu bilang asap rokok mengganggu,
Bunyi makan mengecapmu lebih mengganggu.

Kamu bersikeras duduk nyaman,
Padahal nenek itu lebih membutuhkan.

Kamu menghapus post instagram,
Tapi mencibir orang yang bersikap sopan.

Kamu menggugat kecurangan,
Katakanlah, apakah mencontek bukan kecurangan?

Kamu bilang, aku hanya menyindir, tanpa solusi,
Ya, memang, aku sindir diriku.


Naik Tinggi

- #indonesian#poem#picture

Illustrated by Degi Bintoro
Illustrated by Degi Bintoro  

Saat hidup tak lagi berarti
Mikir, “mending mati!”
Carilah tahi,
yang ditumbuhi
Fungi—

Ambil!
Goreng!
Rebus!
Oseng!

Pake teri
Nikmati
Sensasi
Naik tinggi
Terbang tinggi
Ogah kembali

Terinspirasi dari doodle yang dibubuhkan Degi Bintoro di binder gua


Commute

- #poem

I do— We do
We all do commute
Like vast herd of sheep
To works, schools, shops
Like migrating ducks
with hunters below
Nozzle aimed
Ready to shoot
We all do commute


Don’t you all bored?
With this routinity?
Mornings—Nights
Even the sun—moon mock;
ironically
They do commute
too


Accompany
human commuters
“keep cycling the city,
you humans”
“you too moon, to the sun”
“you too sun, to the galaxy”
We all do commute
Became our comfort zone
How else would we get salary,
or study,
or resource for food?


We need to commute
Gaining stuffs while
keep cycling the route


“No I dont need to,
I already get all things”
“Yes, yes, lazy ass!
While your relatives do
the commute,
you sleeps, eats, mates.
Let’s see how far your life goes
without doing it yourselves
Because
We need to
do
the Commute.”


25 Januari 2016
Di atas kereta Commuter