Yohanes Bandung Bondowoso

Archives

This is the content of my previous blogs on Wordpress  , and collective of my poems with the dates only by memory.
Most of them are in Indonesian.
Most of them I wrote in my naïve days.


Kamar Gelap

- #indonesian#poem#picture

Fotoku di Kamar Gelap
Fotoku di Kamar Gelap

Bersender dinding, lampu mati,
Kamar gelap berkata begini:

Kamu protes soal pengunduran jam konser,
Saat kalian hadir rapat terlambat.

Kamu melabrak junior yang tak hormat,
Ingat ulang caramu bicara pada orangtua.

Kamu bilang asap rokok mengganggu,
Bunyi makan mengecapmu lebih mengganggu.

Kamu bersikeras duduk nyaman,
Padahal nenek itu lebih membutuhkan.

Kamu menghapus post instagram,
Tapi mencibir orang yang bersikap sopan.

Kamu menggugat kecurangan,
Katakanlah, apakah mencontek bukan kecurangan?

Kamu bilang, aku hanya menyindir, tanpa solusi,
Ya, memang, aku sindir diriku.


Cara Menasehati si Busuk

- #indonesian#blog

Tokoh:
Bapak (Bp) si Kepala Keluarga
Bangsat (Ba) si Anak Pertama
Biadab (Bi) si Anak Kedua
Busuk (Bu) si Anak Ketiga


Alkisah dalam sebuah keluarga dengan 3 anak. Anak bungsu, Busuk, memiliki hobi bermain game dan kebiasaan membanting benda jika ia kalah dalam permainannya.

Skenario 1
Busuk meminjam telepon seluler Bapak untuk bermain game, tak lama, Busuk kalah dalam permainan, dan dalam emosinya, membanting telepon Bapaknya.

Bp : Hey, Busuk! Lihat apa yang kau lakukan!
Bu : Maaf pak, busuk tidak sengaja.
Bp : Kamu membanting hape bapak hingga layarnya pecah, dan kamu bilang itu tidak disengaja?!
Bu : Tadi aku kalah saat bermain game, tiba-tiba aku emosi dan tida—
JTAK (Bapak menjitak Busuk)
Bp : Kamu tidak pernah berubah! Sini, kemarikan handphone Bapak!

Skenario 2
Anak sulung, si Bangsat, biasa dipanggil Bang, memiliki gaming computer yang canggih. Suatu saat, Busuk bermain game di komputer dan saat ia kalah dalam permainan, ia menggebrak keyboard hingga tombolnya berantakan.

Ba : … (kaget melihat kondisi barangnya yang rusak)
Bu : Maaf Bang! Bang, maaf ya bang Bangsat… Maaf, aku tidak seng—
DZIG (Bangsat memukul Busuk, lalu pergi meminggalkan Busuk yang terkapar)

Skenario 3
Biadab, biasa dipanggil mas Dab, punya PS3. Suatu saat, Biadab dan Busuk bermain game bola, dan Busuk kalah. Biasa, Busuk reflek membanting perangkat pengendali yang ia pegang dalam emosinya.
Bi : Hey, Busuk! Kenapa kau lakukan itu?
Bu : Hah, maaf mas Dab! (Busuk menutup wajah dan kepalanya, siaga akan serangan dari kakaknya)
Bi : Sudah, tidak perlu takut begitu. Sebenarnya aku, Bapak dan aBang tidak mempermasalahkan benda yang kamu rusak. Benda rusak mudah diganti atau diperbaiki agar bisa dipakai lagi.
Yang kami permasalahkan adalah jika kepribadianmu rusak, Suk. Kamu menjalani hidup dengan sikapmu yang emosian begitu sama seperti kamu bermain game bola dengan joystick yang telah kamu banting ini. Dengan joystick normal aja kamu kalah, apalagi dengan joystick rusak? Pasti kalah kuadrat!
Mulai sekarang tolong kamu perbaiki sikap burukmu itu. Hidup ini penuh resiko dan gamparan, tetapi tanpa sikapmu itu, resiko tersebut dapat dihindari. Ya?
Bu : Iya, iya mas Dab, terima kasih telah memberi tahu aku. Aku akan berusaha menghilangkan kebiasaan Buruk Busuk. Terima kasih karena tidak memukulku. Mas Biadab paling bijak deh!
Bi : Tapi kamu tidak akan mudah jera jika tidak disakiti! Haha! Nih!
JWIT (Biadab mencubit Busuk secara bercanda, walaupun busuk tetap teriak kesakitan)


Menurut kabar burung, bekas cubitan Biadab meninggalkan memar kebiruan hingga hari tua si Busuk. Sekian, terima kasih.


Kisah Perjalanan Tanpa Rencana

- #indonesian#blog

27 Februari
16.48 —

Temen gua mengirim poster event urbanGiGs, dengan caption ‘pindah ke bandung yuuk’. Kami memang sering nonton konser bareng, dan beberapa saat lalu baru Barasuara. Chat itu memang bernada canda, karena tidak mungkin dia pergi ke Bandung.

Kebetulan, gua baru selesai ngerjain project di kantor, lagi main hape dan melihat poster itu, “ooh, Barasuara, seru nih” “Anjing! ada FLOAT!” yap, pikiran spontan yang muncul ketika melihat band favorit gua itu tampil, dan gua melewatkan kesempatan menonton mereka 2 bulan lalu.

17.27 —
Lewat sudah 39 menit dengan gua mencari-cari cara bisa ke Bandung untuk menghadiri event itu; berkoar di grup minta tebengan, memperhitungkan tarif Bus atau Kereta hingga alternatif pesawat! “Gua harus cabut ke Bandung malem ini biar besok tinggal jalan kaki 8km dari stasiun Bandung ke tempat event!”

19.30 —
Posisi gua di Bro.do Kemang, fyi itu toko sepatu. Jadi, dalam 2 jam ke belakang, setelah gua pasrah tidak mendapat tiket keberangkatan ke Bandung untuk malam ini, akhirnya berjalan dengan lesu ke parkiran sepeda hendak pulang.
Tiba-tiba tante gua mengajak untuk ketemuan di Pejaten Village, mengajak makan bareng dia dan anaknya yang saat itu sedang les menyanyi di Yamaha. Biasanya rute gua untuk pulang dari kantor di Gandaria8 adalah Radio Dalam > Antasari > Jeruk Purut > Ampera > Cilandak, berhubung perjalanan gua berubah menuju Penvil, bertanyalah gua ke orang sekitar ‘pilar flyover 19’ mengenai jalan tikus ke sana.
Ternyata, jalan tikus itu mengarah ke Jalan Kemang 8, iya sih, emang bisa ke Penvil juga, tapi syiiiiit the traffic man! Well, kebetulan gua melewati toko Bro.do, sempat lah, mampir sebentar melihat katalog. Akhirnya gua ga beli apapun, dan lanjut gowes ke Penvil.

21.22 —
Bersama tante dan anaknya(berarti dia sodara gua, kan?) makan di toko bakso di lantai puncak Penvil, setelah tante gua menceritakan kisahnya ‘gagal ke Bandung’, gua kembali berniat pergi menonton konser di Bandung itu.

27 Februari
00.12—

Masih sibuk mencari cara menuju Bandung, sudah menanyakan tarif dan cara memesan kereta ke teman, dan memutuskan kereta pukul 9 pagi dari Gambir adalah yang terbaik.
Bapak gua tiba-tiba masuk kamar, minta dipijat.
Dari sesi pijat—yang jelas tidak plusplus— itu, gua mendapat alternatif baru menuju Bandung dari bokap: Bis dari Lenteng. Hmm, menarik, tapi ia menutup pembicaraan—dan sesi pijat itu dengan berita lain: besok abang gua yang udah nikah mau main ke rumah bareng istri dan anaknya.

“Oke, dipikir dulu deh pak jadinya ntar gimana”

12.37 —
Akhirnya, gua di WM, tempat nongkrong gua, mengetik post ini di hape. Yap, gua gagal dalam rencana menghadiri performa Float, Barasuara(dan band lain yang gak terlalu gua pikirin) di Bandung. Gak apa apa, setidaknya di sini gua masih bisa memutar lagu mereka dari hape. Tetep aja, masih galau atas absennya gua di event itu. Nih posternya btw:

picture of old poster of UrbanGiGs event
Poster UrbanGiGs jadul
picture of old poster of UrbanGiGs event
Poster UrbanGiGs jadul

Sisi positifnya, gua gak jadi memakai ~Rp 300ribu tabungan gua untuk perjalanan, dan yang pasti, gua bisa ketemu abang, ipar, dan keponakan gua yang saat ini masih bayi lucu lucu.


Agar post curhat ini lebih bermakna, gua tambahkan pesan moral:
Hidup perlu rencana, tapi yang spontan lebih berkesan. Jangan bayar kredit, mending kontan. Karena Roro Jongrang mengakali Bandung Bondowoso, perempuan itu berubah jadi batu. Tumang adalah bapak kandung Sangkuriang, dan alasan orang Indonesia yang tidak akan kenyang tanpa makan nasi sulit diterima nalar gua.

Selamat siang, semoga akhir minggu kalian menyenangkan.


Mengenai Penampilan Kerja

- #indonesian#blog

Kaya biasa, tiap rabu gua naik kereta ke kantor biar kaki-kaki tercinta ini bisa istirahat. Biasanya gua naik sepeda.

Sambil ngopi di smoking area, gua merhatiin perbedaan mencolok dari orang yang kerja di lantai 20(gua) dan 32, dengan yang kerja di lantai 33, 35.
Kami, pekerja industri kreatif memakai pakaian kasual yang beragam gaya, sedangkan mereka pekerja ‘kantoran’ berpakaian formal monoton.

Jenis sepatu juga, pilihan sepatu kami beragam dari sneakers, loafers, slippers, boots, oxford bahkan flip-flop(swallow!), sedangkan mereka terbatas pada oxford dan pantofel. Gaya rambut juga.

Alasan rasional adalah perusahaan mereka mewajibkan penampilan monoton. Awalnya gua pikir peraturan mengenai penampilan adalah kaku, tapi setelah gua pikir, berpenampilan kaku malah meningkatkan performa kerja. Dan berpakaian kasual—bebas juga memberi dampak positif bagi proses kreatif

[1] Gua pernah baca, tentang Obama dan Mark Zuckerberg yang selalu memakai pakaian dengan gaya sama, yang satu formal, lainnya kasual. Keduanya orang penting dengan berbagai decision making(pengambilan keputusan) dalam pekerjaannya. Menurut mereka, keharusan memilih pakaian(dan jenis sarapan) di pagi hari adalah beban.
Nah, dari situ gua simpulin, dengan penampilan yang selalu sama, seorang pekerja gak perlu pusing mikirin ‘apa baju gua enak diliat? rambut gua terlalu ngejengkrak gak? apa sepatu gua gapantes dipadu-padankan ke celana gua?’. Dengan demikian performa kerja gabakal kepengaruh kegelisahan akan penampilan mereka. Juga, mengurangi decision making yang dilakukan per harinya.

[2] Absennya peraturan mengenai penampilan malah menuntut proses kreatif para pekerja industri kreatif terus bekerja. Mereka harus bisa menggabungkan style rambut-baju-celana-sepatu biar enak dilihat. Mungkin secara gak langsung mengasah kerja otak juga. Mereka juga diharuskab mencari informasi mengenai tren terkini, memengaruhi cara kerja yang harus up-to-date.

Nah, jadi, apa lu mau makan nasi goreng atau salad sebagai sarapan? Kalo aku mah yes. Kopi cukup kok.

Udah ah, gua mau naik(ke kantor) jam segini lift pasti antriannya banyak. Ciao!


Plastik, Sepele kan?

- #indonesian#blog

Hola! Buruan jawab: lu milih ditiban besi 100kg, atau kapas 100kg?

Tadi gua baru baca koran Kompas minggu lalu, liat iklan hape, terus langsung ngamen di lapo biar dapet uang buat beli Galaxy Note 5 yang harganya gak masuk akal. Harga segitu gua gamampu, apalagi iPhone 6? Untuk saat ini cuma bisa menggapai-gapai dari kejauhan untuk benda mewah itu. Tapi pas iPhone 10 keluar, gua udah bisa ngeborong kok, tenang aja.

Serius, di koran ada berita: plastik kresek(dinamain dari bunyinya) bakal dicatok tarif minimal Rp 200 di kota tertentu, lebih murah daripada di Balikpapan harganya cenggo(tadinya malah goceng).

picture of Vin Diesel meme in Indonesian
picture of Vin Diesel meme in Indonesian

(Di sini gua akan mengandaikan jika harga plastik yang dicatok retailer sama kaya di Balikpapan, Rp 1500) Mengingat mental orang normal yang protes bensin—jelas bermanfaat buat pacaran, nongkrong, bikin areng pas bakar ayam— sempet naik jadi Rp 9000, gimana kalo benda sepele yang biasa dikasih gratis—kadang malah diminta dobel— dikasih harga? Kebayang gimana reaksi orang yang biasanya cuma beli Royco 2 sachet aja pake minta diplastikin.

“Sampo laifboy 3 dong bang”
“Nih bu, ja—”
“Plastikin dong!”
“Oh iya… Nih bu, jadi tiga rebu”
“Hah?!” langsung dilariin ke rumah sakit karena zuppa soup yang tadi dimakan doi di nikahan temen sodaranya udah basi

Logika orang normal, plastik kresek itu sepele. Ringan, tipis, bisa dibuntel jadi kecil. Semua orang dengan mudahnya ngebuang sampah plastik ke jalan, pikirnya gak bakal banyak pengaruh ke lingkungan. Oke, kalo di suatu daerah cuma satu—dua yang berpikir gitu, emang gak berpengaruh banyak. Masalahnya, cara pikir demikian diterapkan oleh banyak orang. Berarti yang membuang sampah plastik ke jalan raya adalah banyak orang itu. Efeknya(yang gua tau dari koran), adalah setiap harinya, sampah plastik di Balikpapan mencapai 60 ton! GILA! Sama dengan berat Tyranosaurus Rex dikali dua belas!

Sekarang anggaplah berat sampah plastik di kota kalian sama dengan di Balikpapan, atau mungkin lebih berat lagi. Miris kan? Benda yang kalian anggap sepele dan ringan ternyata menyumbang banyak banget sampah.
Ngomongin ‘berat’, kalian lebih milih mana? Milih ditiban besi 100 kg atau kapas 100 kg?
Gua sih, milih kamu yang sering menemani aku beli buku~

Btw, gaada pilihan yang lebih benar, soalnya belom pernah ada yang praktekkin hal itu. Gua sih berharap kalian mengurangi sampah plastik yang mungkin sering kalian buang, gimanapun caranya. Beli rokok di alfa gausah diplastikin lah, tenteng aja pake tangan. Kalo si kasir terlanjur masukkin belanjaan kalian ke plastik, tolak aja baik-baik.

Udah ah, selamat malam! Jangan lupa cari jodoh! Penampilan dan sifatnya si doi gak penting, yang penting seiman ya!

Update:
Barusan gua ke Lotte Mart, udah ada pengumuman ini:

picture of plastic prohibition sign in Indonesian
picture of plastic prohibition sign in Indonesian
picture of plastic prohibition sign in Indonesian
picture of plastic prohibition sign in Indonesian

Lalu, seorang pembeli yang antri di depan gua kaget, setelah si kasir ngasih tau kebijakan baru itu. HAHA! Rasakan kau, konsumen primitif!


Naik Tinggi

- #indonesian#poem#picture

Illustrated by Degi Bintoro
Illustrated by Degi Bintoro
Illustrated by Degi Bintoro
Illustrated by Degi Bintoro

Saat hidup tak lagi berarti
Mikir, “mending mati!”
Carilah tahi,
yang ditumbuhi
Fungi—

Ambil!
Goreng!
Rebus!
Oseng!

Pake teri
Nikmati
Sensasi
Naik tinggi
Terbang tinggi
Ogah kembali

Terinspirasi dari doodle yang dibubuhkan Degi Bintoro  di binder gua


Konsumtif, Obesitas

- #indonesian#blog

Hola! Malam ini, gua pergi ke IndoMidi buat beli roti, dan gua baru sadar jenis roti yang lebih lembut, harum dengan sedikit aroma margarin dari merk apapun mengandung 50% lebih banyak kalori dan dua kali lemak per porsi dari roti tawar biasa. Hmm, perlu dipertimbangkan nih, untuk Bapak Sudirman Said(FYI, doi adalah Menteri Energi dan SDMineral kabinet Kerja, berhubung makanan adalah energi tubuh kita).

Sehubungan dengan IndoMidi, gua masih kontra dengan raibnya minuman beralkohol dari minimarket terdekat. Menurut gua, konsumsi alkohol saat nongkrong dan pacaran di malem minggu bisa meningkatkan lahirnya Sumber Daya Manusia yang berkualitas(dengan drawback, lebih banyak lagi yang tidak berkualitas! HAHAHA!).

Alkohol juga membantu melepas stress-pekerjaan bagi karyawan yang suntuk (atau menyebabkan kerusuhan jika para kuli yang mabuk berkelahi! HAHAHA!). Oke, paragraf ini kontennya negatif dan gak pantes dibaca anak batita[baca: bayi tiga tahun].

Serius sekarang, sehubungan dengan kunjungan gua ke IndoMidi, gua menyadari gencarnya toko-toko—apapun, kelontong, pakaian, serba ada, bahkan restoran— melakukan promosi. Potongan harga, bonus barang, atau undian:

## 1. Beli sepasang sepatu dan dapatkan discount 30% pada pembelian sepasang berikutnya! #

Ini merugikan, terutama untuk orangtua yang sempat janji membelikan anaknya sepasang sepatu jika nilai Ujian di atas rata-rata tanpa mencontek(yailah! standar belajarnya rendah banget!). Di toko sepatu, anaknya yang terbiasa dimanjakan akan merengek/menghasut agar ia dibelikan sepasang lagi, bonus. “Ayolah papaa, beli sepasang lagi lebih murah kook, jadinya cuma Rp 1,4 juta DOANG”. Apakah lebih untung? Tidak!

Dengan pembelian sepasang lagi, biaya bulanan orangtua untuk deterjen pencuci sepatu akan meningkat sedikit, wadah sepatu terasa lebih sempit, dan dibandingkan rencana awal akan bertambah pengeluaran duit!

## 2. Beli 4 Fitbar, gratis 1 Bimoli! #

Agar judul post ini sesuai konten, gua cantumkan poin ini. Seorang remaja beli Fitbar(dengan jargon kurang lebih: makan tanpa takut gemuk!) untuk mengganti porsi nasi sehari-harinya, dengan niat baik mengurangi berat badan. Bonus minyak goreng yang ia terima saat membeli 12 Fitbar membuatnya lebih banyak mengonsumsi gorengan dari normal, membuat ia naik berat badan 9 kilogram! Hati-hati dengan bonus!

## 3. Beli 2 porsi Pizza, lebih murah per porsinya! #

Kasus ini mungkin terjadi saat seorang pemuda yang lapar saat istirahat kantor memesan seporsi pizza untuk makan siangnya. Ia tergoda akan promosi tersebut, dan memesan 2 porsi pizza. Kesalahan fatal. Setengah porsi saja sudah membuat kenyang, dan melebihi kalori yang dibutuhkan tubuh untuk seharian! Apa yang harus ia lakukan dengan satu-setengah porsi sisanya? Dimakan? Awasi berat badanmu bung! Dibawa pulang? Akan terbengkalai di kulkas lalu membusuk, sangat sia-sia!

Sebenarnya saya punya solusi positif untuk poin ini, yaitu dibawa ke kantor untuk dibagikan ke teman satu divisi dan divisi sebelah. Solusi tersebut sangat baik untuk mempererat hubungan dan ukuran celana mereka! HAHA!

## 4. Beli paket internet 6 GigaByte 24 jam sinyal bagus hanya Rp. 100ribu ! #

Poin ini sangat fatal, karena tidak pernah ada! Sial, kalo ada paket murah kaya gini, please kasitau gua yak!

Kesimpulan yang bisa diambil adalah, post ini jangan terlalu diambil hati, karena uang hasil kerja kita adalah penghargaan yang boleh digunakan untuk apapun. Belilah sepatu mahal itu karena bisa menaikkan kepercayaan diri dan harga diri kalian di mata teman kuliah, ambil saja bonus minyak goreng itu dan berikan ke ibu kalian karena hal kecil tersebut sangat membantunya, makan saja Pizza itu karena Pizza sangat enak!

Syalom. Btw, besok gua mau berangkat pagi ah, iseng.


Kenalan Yuk!

- #indonesian#blog

Hola!

Selamat datang di sini, blog yang dibuat untuk menampung segala bentuk tulisan yang pernah —dan akan— gua bikin.

By the way, pagi ini gua di pantry lagi bikin kopi, setelah ngebuka bungkus ABC Susu, gua tuang isinya ke tong sampah, dan bungkusnya ke gelas. Penyesalan terasa sampai sekarang.

Gua punya kebiasaan yang berbahaya, yaitu bengong, melamun, bisa menyebabkan kesambet atau bahasa tenarnya kesusupan kesurupan.

Pas bengong, imajinasi gua bisa membangun gedung, meresmikan agama baru, menulis buku filsafat atau lirik lagu dan lakon teater. Liar, dan seperti opini individu pada umumnya, akan ada pihak lain yang pro dan kontra. Jadi tl;dr untuk blog ini, kalo lu gak bisa membuka pikiran lu sedikit untuk menerima tulisan yang (sangat terkadang) menyinggung, well, maaf. Tapi lu bisa komentar di post saya untuk memperbaiki jalan pikir saya kacau saya ini kok, terima kasih sebelumnya. Selama beberapa hari ke depan, gua akan merilis tulisan yang pernah gua tulis di komputer atau telepon selular untuk mengisi populasi post di blog ini.

Sore ini, pukul 5.55pm berarti 5 menit sebelum waktu pulang resmi dari kantor. Nyatanya gua akan pulang sekitar jam 7, setelah kongkow di smoking area bareng temen(karena kita makhluk sosial). Dilanjutkan ganti baju, karena gua naik sepeda ke kantor, lalu perjalanan pulang satu jam.

Tepat saat ini, gua lagi bikin post perkenalan ini, sambil ngedengerin soundtrack dari serial TV “Dexter”, gua sangat merekomendasikan serial itu. Lalu dalam beberapa menit kemudian, gua akan merilis post ini, menulis laporan kerja harian, dan menunaikan kegiatan yang udah dijelasin di paragraf sebelumnya.

Selamat malam kekasih, mimpi indah malam ini.


Commute

- #poem

I do— We do
We all do commute
Like vast herd of sheep
To works, schools, shops
Like migrating ducks
with hunters below
Nozzle aimed
Ready to shoot
We all do commute


Don’t you all bored?
With this routinity?
Mornings—Nights
Even the sun—moon mock;
ironically
They do commute
too


Accompany
human commuters
“keep cycling the city,
you humans”
“you too moon, to the sun”
“you too sun, to the galaxy”
We all do commute
Became our comfort zone
How else would we get salary,
or study,
or resource for food?


We need to commute
Gaining stuffs while
keep cycling the route


“No I dont need to,
I already get all things”
“Yes, yes, lazy ass!
While your relatives do
the commute,
you sleeps, eats, mates.
Let’s see how far your life goes
without doing it yourselves
Because
We need to
do
the Commute.”


25 Januari 2016
Di atas kereta Commuter